Pemetaan Ragam Literasi Peserta Didik

"Aku rela dipenjara asal dengan buku, karena dengan buku aku akan bebas” Mohamad Hatta

Dec 28, 2021 - 20:49
Sep 28, 2022 - 21:32
 0
Pemetaan Ragam Literasi Peserta Didik
Dimas Novie Wibowo

Oleh : Dimas Novie Wibowo

Literasi mungkin diksi yang akhir-akhir ini sering muncul dalam setiap kegiatan yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Beragam istilah dan gerakan muncul untuk menyambut gegap gempita literasi. Semisal saja, gerakan literasi sekolah yang di gagas pada tahun 2016, sekolah aktif literasi duta literasi dan masih banyak gerakan atau istilah yang berkaitan dengan yang namanya literasi. Ada juga gerakan-gerakan literasi yang berbasis komunitas seperti taman baca, perpus jalanan, perpus keliling dan ragam bentuk lainnya yang kebanyakan digerakkan oleh anak-anak muda di pelbagai kota. Bisanya mereka melapak buku bacaan di atas trotoar, taman kota atau fasum lainya. Belum lagi upaya pemerintah daerah semisal yang turut serta mendorong kebiasaan berliterasi bagi warganya dengan menyediakan distribusi bacaan yang tidak lagi berada di perpustakaan daerah, namun juga hadir di halte bus dan kantor-kantor pelayanan publik.

Geliat literasi mungkin menjadi angin segar bagi ekosistem pendidikan di Indonesia. Bagaimana tidak, jika mengacu pada survei yang di lakukan oleh lembaga Pisa pada tahun 2019 semisal, Indonesia berada di urutan 72 dari 77 negara yang menjadi bagian dari survei PISA. Artinya negara kita dalam urusan membaca berada di posisi kelima dari bawah. Posisi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi pada hasil survei PISA 2016 saat itu Indonesia berada di posisi 60 dari 66 negara peserta survei PISA. Dalam pemaparan lembaga PISA disebutkan jika peserta didik Indonesia masih kesulitan dalam menyelesaikan satu bacaan buku tiap tahunnya. Kondisi tersebut, tentu tidak serta-merta kemudian melihat hasil survei PISA sebagai satu-satunya indikator mutu pendidikan kita, khususnya di bidang literasi. Namun perlu juga kita “ sebagai pendidik” melihat hal tersebut sebagai fakta dan realitas sehingga dapat membuat tindakan dalam mendekatkan peserta didik ke kebiasaan berliterasi.

Bayangkan saja,  peserta didik kita yang nantinya menepati komposisi penduduk produktif pada tahun 2045, atau sering disebut sebagai era emas bonus demografi Indonesia namun memiliki kualitas literasi yang rendah. Kemudian coba bandingkan dengan data pengguna media sosial “ sosmed ” di dunia, Indonesia berada di posisi empat. Apa yang kemudian yang ada di pikiran kita semua ? Maka tak heran jika kemudian ada sebuah idiom di kalangan pengguna sosial media “ yang berbahaya dari menurunnya minat membaca adalah meningkatnya minat berkomentar ”. Atau bisa dikatakan urusan jempol kita peringkat empat dunia namun urusan otak kita berada di peringkat 70. Fakta-fakta inilah yang harusnya mampu ditangkap oleh lembaga pendidikan dan tentunya pendidik di dalamnya. Sehingga permasalahan yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia semisal, mengenai hoax (berita bohong), ujaran kebencian hingga perundungan di internet yang di lakukan peserta didik mampu dicegah secara preventif. Berangkat dari permasalahan dan fakta-fakta di atas, tentu tidak bisa kita sebagai pendidik hanya bersikap pasif dan menunggu instruksi. Perlu adanya kesadaran untuk bergerak dengan segala kemampuan  daya dan upaya yang kita miliki. Inovasi dan paradigma baru dibutuhkan untuk mampu mengubah fakta-fakta dunia pendidikan kita dengan segala semestanya.

Pentingnya Pemetaan Kemampuan Literasi Peserta Didik

Menumbuh kembangkan kebiasaan literasi bukanlah sesuatu yang muda, tidak cukup kiranya jika hanya menjadi jargon atau slogan. Begitu juga dengan gerakan-gerakan literasi yang hanya menekankan pada hasil karya. Jika model-model seperti ini terus di gunakan tak ayal jika kualitas literasi peserta didik kita, jika tidak mau dikatakan gagal maka bolehlah disebut masih jalan di tempat. Dari beberapa hal yang menurut penulis perlu mendapat atensi khusus dalam menyusun program literasi, di antaranya adalah pentingnya pemetaan karakter berliterasi di kalangan peserta didik. Mengapa hal tersebut penting?

Pertama, pemetaan ini perlu dilakukan untuk dapat mengetahui bagaimana level kemampuan literasi peserta didik, tentu dalam satu kelas semisal, kemampuan peserta didik dalam mengakses bacaan tentunya tidak sama dan berada di level-level tertentu. Kedua, pemetaan literasi ini bertujuan untuk memotret hubungan latar belakang peserta didik dengan akses sumber bacaan. Sebagai contoh semisal peserta didik dengan fasilitas belajar yang memang didukung oleh keluarga apa akan berbanding lurus dengan kualitas mereka dalam berliterasi. Ketiga, dengan pemetaan ini diharapkan mampu mengetahui ragam bacaan peserta didik hari ini, semisal apakah mereka masih membaca koran, masih membaca buku di perpustakaan dan masih membeli buku di toko buku atau mereka sudah bergeser dengan membaca informasi melalui kanal online, buku-buku digital dan juga platform penyedia bacaan berbasis digital.

Dengan demikian setiap pendidik akan mempunyai semacam catatan  dari hasil pemetaan literasi peserta didik. Maka kemudian tinggal bagaimana kita membuat pendekatan dalam menentukan program literasi baik di level sekolah atau lingkup yang lebih kecil yaitu kelas. Paradigma dan pendekatan dalam menentukan program literasi di tiap sekolah atau bahkan di tiap kelas tentunya tidak bisa kemudian diseragamkan. Penting kiranya melihat dulu bagaimana seharusnya mereka “peserta didik” berliterasi dan kemudian menghasilkan karya literasi. Tidak elok kemudian menyeragamkan mereka untuk memiliki karya tulis dengan kualitas yang sama semisal. Kenapa kemudian tidak mencoba memberikan kebebasan dan kemandirian dalam berkarya literasi di sesuaikan dengan potensi massing-masing peserta didik. Sehingga memunculkan keragaman jenis karya sebagai wujud cerdas majemuk.

Biodata Penulis : Dimas Novie Wibowo 

adalah Guru di SDN Kepuharum Kabupaten Mojokerto.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow

super1media Satu Media